Setting Internet

August 29, 2007

Hmm… Rasanya sudah lama sejak terakhir saya update blog ini. Kesibukan serta kondisi komputer membuat saya sedikit kewalahan untuk bisa melanjutkan perjalanan saya dengan Ubuntu. Namun dengan tekad dan keinginan yang kuat saya kemudian melanjutkan pembelajaran saya akan sistem operasi baru ini.

Kesibukan demi kesibukan yang menghampiri seakan tidak menyisakan banyak waktu bagi saya untuk melihat ini dan itu di Ubuntu. Ditambah lagi dengan komputer saya yang kemudian mati mendadak dan menyisakan β€œhang” πŸ˜›

Dengan berbagai keadaan saya kemudian melakukan instalasi ulang Ubuntu dan mulai meneruskan belajar saya untuk mengutak-atik Ubuntu.

Jika pada postingan terakhir saya menginformasikan akan melanjutkan belajar saya pada multimedia, dengan postingan ini maka saya nyatakan kalo postingan multimedia akan saya tunda terlebih dahulu. Sementara ini saya perlu belajar sesuatu yang dapat saya pakai untuk mendukung pekerjaan saya yaitu koneksi internet.

Untuk terkoneksi ke internet, ada 3 syarat mutlak yang harus dipenuhi, yaitu perangkat keras yang berupa modem, perangkat lunak yang berupa program untuk melakukan koneksi dan koneksi internet itu sendiri.

Untuk modem, saya memakai modem USB D-Link 562M yang saya beli seharga Rp. 210.000. Untuk koneksi saya pakai Telkomnet karena pada saat ini, Telkomnet menyediakan kemudahan mengakses internet tanpa birokrasi pendaftaran.

Dengan berbekal pengalaman saya di Jendela yang dengan begitu mudahnya dapat tersambung ke internet dengan perangkat-perangkat di atas, di Ubuntu saya mendapatkan kenyataan yang berlawanan bagai bumi dan langit.

Jika di Jendela modem USB D-Link 562M saya dapat terdeteksi dengan begitu saja dan kita hanya tinggal memasukkan CD driver untuk kemudian modem terpasang dengan sempurna, di Ubuntu segalanya berbeda dan saya sempat terkejut dibuatnya.

Di Ubuntu, modem USB D-Link 562M saya hanya terdeteksi sebagai HSF Conexant Modem. Ini dapat dilihat melalui System>Preference>Hardware Information. Nah lucunya, ketika saya tanya Ubuntu dengan melalui menu Help untuk modem dial up, saya diinformasikan untuk melakukan download program ScanModem. Lha bagaimana saya bisa download kalo untuk melakukan koneksi saja saya tidak bisa 😦

Maka kembalilah saya kepada Jendela, tempat saya mencari informasi tentang bagaimana modem saya dapat terpasang dan dapat digunakan. Setelah mencari kesana dan kesini di dalam lautan Google, saya mendapatkan informasi untuk melakukan perintah berikut di terminal.

$ sudo wvdialconf /etc/wvdial.conf

Terminal merupakan program dimana kita bisa menuliskan baris perintah kemudian mengeksekusinya dengan menekan tombol Enter. Padanan program Terminal di Jendela adalah Command Prompt. Setelah saya lakukan perintah di atas, ternyata tidak menghasilkan output yang semestinya alias modem tidak terdeteksi.

Maka ritual mencari kesana dan kesini saya lakukan lagi, saya menemukan informasi kalau mungkin bisa dicoba untuk menggunakan driver dari Dell karena mereka sudah mengeluarkan produk yang sudah terinstall dengan Ubuntu dan menggunakan Conexant HSF Modem. Maka segeralah saya meluncur ke TKP dan mengunduh driver tersebut.

Setelah melakukan download, masalah yang baru kemudian timbul, bagaimana cara install-nya πŸ˜› File dari Dell tersebut berekstensi .DEB yang kalau sepengetahuan saya merupakan program installer dari distro Linux Debian atau seperti .EXE pada Jendela. Ritual mencari-cari informasi saya lakukan lagi dan menemukan kalau cara menginstalnya cukup mudah.

Pertama-tama, file hasil download kita simpan di direktori tertentu, dari instruksi yang saya dapatkan, file tersebut saya simpan di folder /tmp di drive FileSystem. Kemudian dilakukan perintah berikut di Terminal.

$ cd /tmp
$ sudo dpkg -i hsfmodem_7.60.00.06oem_i386.deb

dan kemudian akan keluar tulisan-tulisan yang saya tidak begitu mengerti artinya. Pokoknya kemudian saya Enter dan kemudian komputer saya restart dan setelah masuk ke Ubuntu lalu muncul menu yang menginformasikan kalo program β€œin use”.

Sampai pada langkah ini, secara sistem saya kemudian memerlukan program untuk dapat melakukan koneksi ke internet seperti halnya di Jendela. Namun saya tidak menemukan satupun petunjuk yang dapat menghubungkan saya dengan internet melalui Ubuntu. Bahkan menu Help di Ubuntu tidak terlalu membantu karena diinformasikan kalau support untuk modem dial up di Ubuntu tidak banyak.

Maka saya kembali lagi ke Jendela πŸ˜› Mencari tahu di bagaimana supaya bisa terhubung dengan internet dan saya menemukan informasi kalau ada beberapa cara seperti memakai wvdial. Saya kemudian menuliskan perintah wvdial.conf lagi dan menghasilkan tulisan seperti ini

$ sudo wvdialconf /etc/wvdial.conf
Password:
Editing `/etc/wvdial.conf'.

Scanning your serial ports for a modem.

Modem Port Scan: Scanning ttySHSF0 first, /dev/modem is a link to it.
ttySHSF0: ATQ0 V1 E1 -- OK
ttySHSF0: ATQ0 V1 E1 Z -- OK
ttySHSF0: ATQ0 V1 E1 S0=0 -- OK
ttySHSF0: ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 -- OK
ttySHSF0: ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 -- OK
ttySHSF0: ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 +FCLASS=0 -- OK
ttySHSF0: Modem Identifier: ATI -- 56000
ttySHSF0: Speed 4800: AT -- OK
ttySHSF0: Speed 9600: AT -- OK
ttySHSF0: Speed 19200: AT -- OK
ttySHSF0: Speed 38400: AT -- OK
ttySHSF0: Speed 57600: AT -- OK
ttySHSF0: Speed 115200: AT -- OK
ttySHSF0: Speed 230400: AT -- OK
ttySHSF0: Speed 460800: AT -- OK
ttySHSF0: Max speed is 460800; that should be safe.
ttySHSF0: ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 +FCLASS=0 -- OK
ttyS0: ATQ0 V1 E1 -- failed with 2400 baud, next try: 9600 baud
ttyS0: ATQ0 V1 E1 -- failed with 9600 baud, next try: 115200 baud
ttyS0: ATQ0 V1 E1 -- and failed too at 115200, giving up.
Modem Port Scan: S1 S2 S3 SHSF1 SHSF2 SHSF3 SHSF4 SHSF5
Modem Port Scan: SHSF6 SHSF7

Found a modem on /dev/ttySHSF0, using link /dev/modem in config.
Modem configuration written to /etc/wvdial.conf.
ttySHSF0: Speed 460800; init "ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 +FCLASS=0"

Tulisan di atas sepertinya menginformasikan kalau modem saya dapat terdeteksi yang ditandai dengan tulisan OK yang banyak πŸ˜› dan tulisan

Found a modem on /dev/ttySHSF0, using link /dev/modem in config.

Karena modem sudah terdeteksi, maka saya coba lakukan lagi perintah wvdial di terminal dan keluar tulisan sebagai berikut :

$ wvdial
--> WvDial: Internet dialer version 1.56
--> Initializing modem.
--> Sending: ATZ
ATZ
OK
--> Sending: ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 +FCLASS=0
ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 +FCLASS=0
OK
--> Modem initialized.
--> Configuration does not specify a valid phone number.
--> Configuration does not specify a valid login name.
--> Configuration does not specify a valid password.

Dari hasil tersebut saya simpulkan kalau saya perlu mengisi beberapa parameter seperti nomor telpon, username dan password yang sudah biasa kita lakukan di Jendela.
Nah, masalahnya saya belum tahu bagaimana cara melakukan editing konfigurasi seperti itu. Saya kemudian mencari-cari lagi dan mendapatkan informasi kalau dapat dilakukan dengan perintah

$ sudo gedit /etc/wvdial.conf

Dari perintah itu memunculkan program Gedit namun tidak ada tulisan apa-apa alias kosong. Cari-cari informasi lagi 😦 dan menemukan info untuk mudahnya dilakukan perintah berikut

$ sudo su
Password:
#

Setelah melakukan perintah di atas maka tanda $ berubah menjadi # yang mengindikasikan kalau saya sudah mendapatkan akses root yang kemudian saya gunakan untuk membuka Gedit dan mengubah wvdial.conf

# gedit /etc/wvdial.conf

ini adalah isi dari wvdial.conf sebelum saya edit

[Dialer Defaults]
Init1 = ATZ
Init2 = ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 +FCLASS=0
Modem Type = Analog Modem
; Phone =
ISDN = 0
; Password =
New PPPD = yes
; Username =
Modem = /dev/modem
Baud = 460800

dan ini adalah hasil yang sudah saya edit

[Dialer Defaults]
Init1 = ATZ
Init2 = ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 +FCLASS=0
Modem Type = Analog Modem
Phone = 080989999
ISDN = 0
Password = telkom
New PPPD = yes
Username = telkomnet@instan
Modem = /dev/modem
Baud = 460800

Perhatikan untuk tanda “;” di depan Phone, Password dan Username karena tanda inilah yang membuat saya pusing tujuh keliling dengan pertanyaan mengapa wvdial tidak dapat membaca konfigurasi pada wvdial.conf πŸ˜›

Setelah semuanya beres maka kita tinggal melakukan koneksi. Seperti yang sudah saya informasikan di atas, koneksi yang saya pakai dengan modem analog USB saya adalah Telkomnet dari telkom. Sebuah pilihan untuk belajar yang menurut saya paling mudah saat ini karena tidak adanya proses registrasi untuk menggunakannya walau dari sisi harga saya anggap masih mahal.

Untuk melakukan koneksi internet dengan wvdial dilakukan melalui Terminal dan akan menghasilkan hasil seperti berikut :

$ wvdial
--> WvDial: Internet dialer version 1.56
--> Cannot set information for serial port.
--> Initializing modem.
--> Sending: ATZ
ATZ
OK
--> Sending: ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 +FCLASS=0
ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 +FCLASS=0
OK
--> Modem initialized.
--> Sending: ATDT080989999
--> Waiting for carrier.
ATDT080989999
CONNECT 460800
~[7f]}#@!}!F} )}!}$}&@}%}&D\be}"}&} } } } }1}$}&@}7}$}" }#}$@#}3})}#}(} }#}*4FJ}#~
--> Carrier detected. Waiting for prompt.
~[7f]}#@!}!G} )}!}$}&@}%}&D\be}"}&} } } } }1}$}&@}7}$}" }#}$@#}3})}#}(} }#}*4Fp}-~
--> PPP negotiation detected.
--> Starting pppd at Wed Aug 29 13:39:12 2007
--> Warning: Could not modify /etc/ppp/pap-secrets: Permission denied
--> --> PAP (Password Authentication Protocol) may be flaky.
--> Warning: Could not modify /etc/ppp/chap-secrets: Permission denied
--> --> CHAP (Challenge Handshake) may be flaky.
--> Pid of pppd: 6205
--> Using interface ppp0
--> pppd: οΏ½[08][06][08]οΏ½[10][06][08]
--> pppd: οΏ½[08][06][08]οΏ½[10][06][08]
--> pppd: οΏ½[08][06][08]οΏ½[10][06][08]
--> pppd: οΏ½[08][06][08]οΏ½[10][06][08]
--> pppd: οΏ½[08][06][08]οΏ½[10][06][08]
--> local IP address 61.94.146.100
--> pppd: οΏ½[08][06][08]οΏ½[10][06][08]
--> remote IP address 61.94.146.3
--> pppd: οΏ½[08][06][08]οΏ½[10][06][08]
--> primary DNS address 202.134.1.10
--> pppd: οΏ½[08][06][08]οΏ½[10][06][08]
--> secondary DNS address 202.134.0.155
--> pppd: οΏ½[08][06][08]οΏ½[10][06][08]

sampai di sini kita sudah dapat melakukan browsing menggunakan Firefox yang terinstall secara default di Ubuntu. Untuk memutuskan koneksi dapat dilakukan dengan menekan tombol Ctrl dan C yang menghasilkan tulisan berikut

Caught signal 2: Attempting to exit gracefully...
--> Terminating on signal 15
--> pppd: οΏ½[08][06][08]οΏ½[10][06][08]
--> Connect time 0.4 minutes.
--> pppd: οΏ½[08][06][08]οΏ½[10][06][08]
--> pppd: οΏ½[08][06][08]οΏ½[10][06][08]
--> Disconnecting at Wed Aug 29 13:39:38 2007

Fiuh…
Cukup dulu untuk saat ini, sejak install Ubuntu saya sudah belajar untuk Open Office, instalasi printer dan internet. Hal-hal yang menurut saya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kerja. Open Office dan instalasi printer saya rasa cukup mudah dengan antar muka pengguna berupa grafis dan cukup dilakukan dengan mouse.

Sementara untuk internet masih cukup komplek dengan perintah-perintah yang kurang lazim bagi orang-orang awam saat ini. Untuk ke depan semoga ada cara yang lebih praktis dan mudah untuk dapat terkoneksi internet melalui Ubuntu.

Untuk postingan berikut, saya akan coba belajar mengenai multimedia yang kemarin sempat terlewat. Saya sudah sedikit mencoba dan tidak berhasil memainkan file MP3 milik saya. Tampaknya akan butuh proses belajar lebih lanjut nih… semangat… πŸ™‚

Install Printer

August 21, 2007

Dikarenakan banyaknya urusan dan kesibukan, maka postingan ini agak molor dari yang saya perkirakan. Memasuki hari ke tiga petualangan saya dengan Ubuntu, saya sudah mencoba untuk melakukan instalasi printer dan mencoba untuk mendokumentasikannya namun baru sempat untuk posting hari ini.

Jika kemarin saya sudah mencoba untuk belajar OpenOffice maka kali ini saya akan mencoba untuk menginstal printer untuk keperluan mencetak dokumen yang sudah saya tulis dengan Openoffice tersebut.

Saya mempunyai satu printer yang sudah cukup berumur yaitu Canon BJC-2100SP. Ini adalah printer tua peninggalan Pangeran Diponegoro πŸ˜› walaupun cukup tua, namun saya sudah terlanjur jatuh hati pada printer ini. Alasan kecintaan saya hanya satu yaitu kemudahan untuk melakukan isi ulang tintanya πŸ˜›

Saya tidak begitu paham mengenai kompatibilitas printer saya di Ubuntu, jadu ini adalah cara coba-coba saja dan kalau berhasil ya syukur dan kalau tidak berhasil ya tidak syukur πŸ˜›

Petama-tama kita siapkan printer terlebih dahulu dan lalu kita hubungkan printer dengan komputer. Seperti yang saya informasikan di atas, saya menggunakan printer Canon BJC-2100SP dan menggunakan kabel printer usb untuk menghubungkan printer dengan komputer.

Pertama-tama kita hubungkan printer dengan komputer dan kemudian power printer kita nyalakan. Lalu kita buka menu printer melalui System > Administration > Printing
Kita akan mendapati menu berikut

[Image]

Seperti halnya di Jendela, kita bisa melakukan instalasi printer melalui New Printer. Setelah kita memilih New Printer Ubuntu akan secara otomatis mencari printer dan mencocokannya dengan database yang dimiliki oleh Ubuntu.

[Image]

Di komputer saya, proses ini tidak memakan waktu yang lama, hanya sekitar 30 detik dan kemudian muncul menu langkah-langkah instalasi printer yang terdiri dari 3 langkah.

[Image]

Pada langkah pertama yaitu Printer Connection, Ubuntu mengenali printer saya sebagai printer lokal yang bernama Canon BJC-2100 (Canon BJC-2100 USB #1). Dari menu ini, saya lalu klik forward untuk menuju menu selanjutnya.

[Image]

Pada langkah kedua yaitu Printer Driver, terdapat pilihan pabrik, model dan driver dari printer saya yang sudah terdeteksi tersebut. Dalam hal ini pabrikannya adalah Canon, modelnya adalah BJC-2100 dan drivernya adalah bjc600. Kalau anda bertanya kenapa drivernya bjc600, saya tidak tahu πŸ˜›

[Image]

Setelah langkah kedua kita forward, maka kita akan sampai pada langkah ketiga yaitu Printer Information. Pada langkah ini saya tidak mengisikan apa-apa dan langsung saja memilih Apply.

[Image]

Setelah memilih Apply, menu langkah-langkah instalasi printer akan menghilang dan digantikan dengan menu Printers dengan printer yang baru yang telah terinstall.

Sampai disini langkah-langkah untuk melakukan instalasi printer berjalan dengan sukses. Tapi perlu diuji apakah printer yang sudah saya install tersebut dapat berjalan dengan baik.

[Image]

Saya kemudian mencoba untuk mencetak dan berjalan dengan baik walau hasil cetakannya kalau menurut saya belum sebagus kalau menggunakan Jendela dan Office.

Karena keperluan kerja sudah tercukupi, postingan selanjutnya akan saya coba untuk hiburan alias multimedia.

OpenOffice di Ubuntu

August 18, 2007

Setelah kemarin sukses melakukan instalasi Ubuntu pada komputer saya, sekarang saatnya melihat apa yang dapat dilakukan Ubuntu untuk membantu saya melakukan aktivitas yang bisa saya dulu lakukan dengan Jendela. Kali ini yang menjadi target operasi penjelajahan saya adalah perangkat untuk bekerja. Karena pada hakekatnya saya menggunakan komputer untuk menyelesaikan pekerjaan dan sekaligus belajar tentang hal-hal yang baru.

Seperti kita ketahui kalau perangkat lunak Office sudah memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam dunia komputer. Kalo dulu ada yang masih ingat, dengan hadirnya Lotus 1-2-3 telah merubah wajah komputer dari sekedar alat hobi para Geek menjadi alat untuk bekerja. Ketika program Wordstar dan teman-temannya hadir, fungsi komputer bertambah sebagai alat ketik menggantikan mesin ketik konvensional karena kemudahannya untuk menyimpan data dan menampilkannya kembali ketika kita minta.

Lalu Microsoft Office datang dan semua orang menggunakannya, tidak terkecuali saya πŸ˜› Microsoft Office menjadi perangkat baku dalam dunia kerja yang belum ada bandingannya sampai saat ini. Segala kelengkapan yang ditawarkan oleh Microsoft Office seakan memanjakan kita dalam segala kemudahan dan kenyamanan bekerja dengan tulisan, angka dan data. Tapi semua itu harus dibayar dengan nilai yang sepadan untuk mendapatkan lisensi aslinya πŸ˜›

Ketika kemudian Linux hadir dari hasil karya para sukarelawan dari seluruh dunia, maka dibuatlah perangkat kerja yang dapat membuat Linux tidak hanya digunakan oleh para Geek belaka, tapi juga oleh orang awam untuk bekerja. Dan kemudian lahirlah OpenOffice dari Sun Microsystem Inc. Jika Microsoft Office harus kita tebus dengan harga yang selangit *saya tidak tahu persisnya* untuk sebuah lisensi, maka OpenOffice hadir dengan kondisi yang gratis *setidaknya demikian saya mendapatkannya* karena Ubuntu yang saya dapat secara gratis secara default membawa perangkat OpenOffice yang terdiri dari :
1. OpenOffice Database (Base)
2. OpenOffice Presentation (Impress)
3. OpenOffice Spreadsheet (Calc)
4. OpenOffice Word Processor (Writer)

Cukup introduksi di atas, selanjutnya mari kita awali penjelajahan kita… πŸ™‚

Perangkat-perangkat OpenOffice tersebut di atas akan terinstall secara otomatis apabila kita menginstall Ubuntu. Untuk membukanya dapat dilakukan dengan melakukan klik pada
Application > Office

Mari kita belajar bersama perangkat OpenOffice di atas.

Saya memulai dari OpenOffice Word Processor atau Writer terlebih dahulu karena ini merupakan salah satu perangkat office yang paling banyak penggunanya. Untuk kalangan pekerja, Writer berfungsi sebagai alat melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan surat-menyurat dan pembuatan laporan, untuk pelajar dapat berfungsi sebagai alat mengerjakan tugas dan skripsi dan untuk orang awam dapat berfungsi untuk membuat undangan rapat RT πŸ˜›

OpenOffice Writer ini merupakan padanan dari Microsoft Word. Graphical User Interface atau tampilan antarmuka serta tombol dan fungsi dari Writer juga hampir sama dengan Word.

Gambar di atas merupakan gambar OpenOffice yang saya gunakan untuk menuliskan draft postingan ini. Jika kita sudah terbiasa dengan Word maka kita akan dengan mudah memahami tombol-tombol dan menu-menu yang tersedia di Writer. Memang ada beberapa keterbatasan seperti font yang kurang familiar, tampilan yang masih lebih kaku daripada Word dan beberapa keterbatasan yang lain. Tapi semuanya itu juga terbayar dengan beberapa kelebihan yang antara lain dapat melakukan export data yang kita buat ke format PDF secara langsung tanpa perangkat tambahan.

Format default dari Writer adalah .ODT yang kalau menurut saya, saya artikan sebagai Open Document Text, tapi entah benar atau tidak saya tidak tahu πŸ˜€

Salah satu kelebihan lain dari Writer adalah kemampuannya untuk membaca dan menyimpan format .DOC milik Word. Hal ini sangat membantu sekali bagi saya mengingat semua file dokumen saya ada dalam format .DOC sebagai imbas dari aktivitas penggunaan komputer saya di masa lalu πŸ˜›

Semua file .DOC milik saya dapat dibuka dengan Writer, hanya saja formatnya kemudian agak kacau dan perlu dilakukan editing dan setting untuk dapat tampil dengan lebih baik.

Selanjutnya kita coba OpenOffice Spreadsheet atau Calc. Calc adalah padanan dari Microsoft Excel dengan tampilan yang hampir serupa. Berikut adalah contoh screenshot dari Calc dengan grafik.

Untuk fungsi dan menu di Calc umumnya sama dengan Excel, hanya saja saya sempat kebingungan menemukan menu print area yang biasa saya gunakan di Excel. Selidik punya selidik, ternyata di Calc menu itu berada di Format > Print Range > Define

Untuk format penyimpanan, Calc menggunakan format .ODS yang saya artikan bebas sebagai Open Document Spreadsheet.

Namun seperti halnya Writer, Calc juga mempunyai kemampuan unruk membuka dan menyimpan dalam format .XLS milik Excel.

Selain itu, Calc juga menyertakan menu export ke format .PDF seperti Writer tanpa harus menggunakan perangkat tambahan. PDF untuk saya berguna sekali dalam berkirim dokumen via internet dimana dokumen yang dikirim sulit untuk diubah dan mempunyai kualitas yang bagus untuk dicetak namun dengan file yang relatif kecil.

Untuk perangkat OpenOffice yang lain yaitu Database (Base) dan Presentation (Impress) tidak akan saya coba sekarang karena saya tidak begitu memerlukannya. Mungkin pada waktu yang lain ketika sudah butuh akan coba saya pelajari kemudian saya tulis di sini πŸ˜€

Cukup sekian dulu untuk office, lain waktu saya akan mencoba menginstall printer dan mencoba untuk mencetak tulisan saya ini melalui printer.

Selamat berakhir pekan πŸ™‚

Install Linux Ubuntu

August 17, 2007

Mengambil momentum 17-an, saya mencoba memerdekakan kebutuhan saya akan komputer dengan mencoba melakukan instalasi Linux Ubuntu pada sistem komputer saya. Pada mulanya saya memikirkan untuk untuk melakukan dual boot pada komputer yang akan saya instal Linux, tapi berhubung MBR harddisk saya menunjukkan gejala yang tidak beres yang saya simpulkan karena pada saat booting tidak mendeteksi “Jendela” yang terpasang di komputer, maka saya memberanikan diri dengan melakukan instalasi satu sistem operasi Linux saja.

Alasan saya memilih distro Ubuntu karena distro inilah yang datang di depan pintu rumah saya tanpa saya harus beranjak pergi dan dengan hanya membayar Rp. 3000 pada pak pos. Versi Ubuntu yang saya pakai adalah versi 7.04 dengan jejuluk Feisty Fawn. Saya juga baru tahu hari ini kalo penamaan versi di Ubuntu menggunakan tahun dan bulan release πŸ˜› 7.04 berarti direlease tahun 2007 pada bulan April, dan karena release Ubuntu menurut info terjadi setiap semester, maka vesi terbaru yaitu 7.10 akan release pada bulan Oktober.

Alasan lain kenapa saya memilih Ubuntu karena saya kurang familiar dengan Linux dan perintah-perintah untuk menjalankannya. Banyak orang ngomong tentang Ubuntu dan banyak sticker Ubuntu nempel dimana-mana yang kemudian membuat saya cukup yakin memilih Ubuntu karena kalo saya mengalami kesulitan maka akan lebih mudah bagi saya untuk “njawil” orang-orang yang pasang stiker Ubuntu tersebut πŸ˜€

Instalasi berjalan dengan cukup mudah, maaf kalo saya tidak menyertakan screenshot instalasi karena saya sama sekali tidak mengerti bagaimana membuat screenshot sewaktu melakukan instalasi Ubuntu. Yang saya ingat instalasi terdiri dari 7 tahapan yang dapat pula dilihat di sini yang menurut saya cukup mudah dipahami oleh orang yang belum pernah instal sistem operasi sebelumnya, kecuali waktu tahap partisi harddisk karena perlu hati-hati dalam memutuskan agar data tidak hangus.

Tapi setelah Ubuntu terinstal, maka untuk mendapatkan screenshot cukup dengan menekan tombol printscreen di keyboard dan kemudian disimpan. Format penyimpanan gambar yang digunakan secara default oleh Ubuntu adalah PNG.

Berikut tampilan desktop Ubuntu yang berhasil saya install. Kalau dilihat dan dirasakan dengan sentuhan mouse πŸ˜› kesan pertama yang saya dapatkan adalah Linux tidak jauh berbeda dengan Jendela. Saya tidak tahu kalau ini hanya kesan pertama saja dan selanjutnya terserah anda berbeda πŸ˜€

Sedikit manjelajah, berikut tampilan File Browser direktori milik user. Kalo boleh dianalogikan, File Browser ini seperti Windows Explorer dan direktori user ini seperti My Documents dimana didalamnya terdapat ikon-ikon yang dapat dijalankan dengan cara double click atau klik dua kali. Klik kanan serta ritual copy – paste ala Jendela juga dapat ditemui di Ubuntu.

Melanjutkan penjelajahan, berikut adalah File System yang mempunyai folder-folder dengan nama-nama yang aneh πŸ˜›

Kalo dilihat-lihat, ini seperti folder Windows di Jendela dimana tersimpan file-file untuk menjalankan Ubuntu. Karena saya belum begitu paham, maka saya tidak dapat menceritakan lebih banyak. Mungkin nanti kalo saya sudah semakin tahu saya bisa bercerita tentang fungsi dan guna dari folder-folder di File System πŸ˜›

Karena saya belum tahu bagaimana melakukan koneksi internet di Ubuntu untuk kemudian posting tulisan ini, saya coba-coba colokkan flashdisk ke port usb di belakang CPU dengan harapan dapat terbaca seperti yang terjadi di Jendela dan eng ing eng… ternyata bisa terbaca πŸ˜€

Karena keterbatasan pengetahuan tentang koneksi internet tersebut, maka saya salin screenshot ke dalam flashdisk dan kemudian nulis postingan ini di Jendela πŸ˜›

Sekian dulu dari saya. Saya mau mencoba menjelajah Ubuntu lagi dan besok kita bahas tentang Office di Linux Ubuntu.

Merdeka

August 17, 2007

Akhirnya memutuskan untuk migrasi.
Semoga blog ini bisa menjadi jurnal migrasi saya
Dari tidak tahu apa apa menjadi sedikit tahu
Dari sedikit tahu menjadi semakin tertarik
Dari semakin tertarik menjadi semakin bisa
Dari semakin bisa menjadi berbagi untuk semua

Sekalian saya ikutkan lomba blog πŸ˜›
Mari belajar dan bekerja
Ubuntu multitasking synchrony